Tuesday, June 9, 2015

Kepemimpinan dan Pemimpin untuk Makalah

Dibalik maju dan berkembangnya suatu orgnisasi baik organisasi formal atau informal ada sesosok pemimpin dengan kepimpinannya yang hebat. Seperti yang diungkapkan oleh Dr, Kartini Kartono dalam bukunya Pemimpin dan Kepemimpinan tahun 2013, Pemimpin merupakan faktor kritis (crucial factor) yang dapat menentukan maju-mundurnya atau hidup-matinya suatu usaha dan kegiatan bersama; baik yang berbentuk organisasi sosial, lembaga pemerintah maupun badan korporasi dan usaha dagang. 


Sedangkan Kepemimpinan itu adalah relasi antara pemimpin dan yang dipimpin. Kepemimpinan ini pada umumnya berfungsi atas kekuasaan pemimpin untuk mengajak dan mengerakan orang lain guna melakukan sesuatu, demi pencapaiaan satu tujuan tertentu. (Dr. Kartini Kartono)
          Dengan begitu pemimpin itu ada, bila terdapat kelompok atau satu “organisasi”. Jadi keberadaan pemimpin selalu ada di tengah-tengah kelompoknya (anak buah, bawahan, rakyat). Dalam barisan perjuangan, pemimpin harus berjalan paling depan—menjadi ujung tombak—untuk memberikan arah dan tujuan yang jelas yang ingin dicapai bersama-sama.
          Ringkasnya, Pemimpin merupakan inisiator, motivator, stimulator, dinamisator, dan inovator dalam organisasinya. Sedang kemunculan dirinya itu pada umumnya terjadi melalui banyak cobaan dan tantangan di tengah kehidupan. Fungsi pemimpin merupakan kebutuhan yang muncul dari situasi khusus, misalnya: masa krisis, perang, revolusi, transisi sosial, kondisi ekonomi, dan lain-lain.
          Superiorotas pribadinya itulah yang menjadi unsure kekuatan dirinya, yang jelas menjadi rangsangan psikososial, dan menerbitkan respons kolektif dari anak buahnya. Kekuatan sedemikian itu mampu mendominir lingkunganya; dan sifatnya konsultatif, koordinatif, membimbing sehingga anak buah menjadi patuh pada dirinya, menghormat, bersikap loyal, dan bersedia bekerja sama dengan semua anggota.
          Pemimpin terbagi dua, yaitu pemimpin formal dan pemimpin informal. Pemimpin Formal adalah orang yang oleh organisasi/lembaga tertentu ditunjuk sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk memangku suatu jabatan dalam struktur organisasi, dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya, untuk mencapai sasaran organisasi. Sedangkan Pemimpin Informal ialah, orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin, namun karena ia memiliki sejumlah kualitas unggul, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok.
          Selanjutnya Kepemimpinan merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang kreatif, yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka menjadi konform dengan keinginan pemimpin. Tingkah laku kelompok atau organisasi menjadi searah dengan kemauan dan aspirasi pemimpin oleh pengaruh interpersonal pemimpin terhadap anak buahnya. Dalam kondisi sedemikian terdapat kesukarelaan atau induksi pemenuhan-kerelaan bawahan terhadap pemimpin; khususnya dalam usaha mencapai tujuan bersama, dan pada proses pemecahan masalah-masalah yang harus dihadapi secar kolektif. Jadi tidak diperlukan pemaksaan, pendesakan, penekanan, intimidasi, ancaman atau paksaan tertentu.
          Tepat pada saatnya.ditengah kelompok itu akan muncul seorang tokoh sentral sebagai pemimpin, yang memiliki kualitas-kualitas unggul. Kualitas superior dari pribadi pemimpin tadi sebagian sangat bergantung pada faktor keturunan, dan merupakan disposisi psikofisik/rohani-jasmani yang herediter sifatnya, yaitu berupa inteligensi, energy, kekuatan tubuh, kelenturan mental, dan keteguhan moral. Dan sebagian lagi dipengaruhi oleh lingkungan sosio-kultural dan kondisi jamannya. Maka pemimpin itu adalah produk interaksi antara sifat-sifat karakteristik indivual dengan tempaan dan tuntutan situasi Zamanya (waktu, ruang/tempat, situasi sesaat)
          Kekuatan dan keunggulan sifat-sifat pemimpin itu pada akhirnya merupakan perangsang psikososial yang bisa memunculkan kepatuhan, loyalitas, kerja sama, dan respek dari para anggota kelompok kepada pemimpinnya. Maka kualitas superior tadi menjadi modal dasar bagi “kekuatan sosial” seorang pemimpin untuk mempengaruhi anak buahnya.
          Pemimpin juga harus mengenal dengan baik sifat-sifat pribadi para pengikutnya, dan mampu mengerakkan semua potensi para pengikutnya, dan mampu menggerakan semua potensi dan tenaga anak buahnya seoptimal mungkin dalam setiap gerak usahanya, demi suksesnya organisasi. Juga bisa mengembangkan dan memajukan penganutnya menuju pada progress dan kesejateraan, Dengan begitu anak buah akan menjadi patuh, dan secara sukarela serta sadar bersedia bekerja keras menggapai sasaran-sasaran yang sudah ditentukan. Bila perlu bersedia mengorbankan harta benda, raga, dan nyawa sekalipun demi mencapai kebahiaan bersama.
2.2.1   Rekapitulasi Tugas-Tugas Pemimpin
          Rekapitulasi dari tugas-tugas pemimpin yang bisa dibedakan dari tugas anggota biasa ialah sebagai berikut:
1.      Dalam perurutan waktu yang relatif menjadi semakin pendek, kualitas pekerjaan dan tugas pemimpin mengandung banyak sekali dimensi inovasi (pembaruan, perubahan baru) dan perubahan-perubahan serba cepat, yang menjadi semakin dipercepat pada zaman modern.
2.      Pemimpin harus mampu menyusun kebijakan yang bijaksana, dan mampu mengadakan seleksi secara cermat tepat dari banyak alternatif; jadi memiliki kemampuan penentuan keputusan/decision-making yang tepat.
3.      Jika tugas anggota biasa berkualitas statis—lebih banyak pasif dan patuh mengikuti --, maka tugas pemimpin sifatnya dinamis, kreatif,inovatif, unik, lentur, luwes/flexible, dan tidak banyak dibatasi oleh standar serta norma-norma ketat. Sebab, pemimpin itu setiap saat akan dikonfrontasikan dengan peristiwa-peristiwa baru yang belum dikenal sebelumnya dan tidak pasti. Dia juga harus menghadapi masalah-masalah pelik di luar perencanaan umum.
4.      Pemimpin harus bisa menerjemahkan atau menjabarkan ide-ide, konsep dan policy organisasi dalam bahasa-aksi, yaitu dalam bentuk perintah, komando dan instruksi-instruksi yang jelas, sehingga dapat dipahami dan dilaksanakan oleh segenap anggota kelompoknya.
5.      Pada struktur piramida, pemimpin tertinggi mempunyai kawibawaan tertinggi, kekuasaan paling besar, dan pertanggungjawaban paling berat, sekaligus memikul resiko paling besar. Di tangannyalah terletak nasib hidup dan kesejahteraan seluruh pengikutnya. Namun sebaliknya, oleh tangan pemimpin pula bisa disebarkan kesengsaraan dan penderitaan, apabila kekuasaanya dilaksanakan dengan sewenang-wenang; sehingga dia patut dijuluki dengan “noire bĂȘte” atau “ si bintang hitam” yang buas kejam.
6.      Pemimpin harus sanggup berpikir kreatif, orisinil, otentik dan futuristic (bisa melihat jauh ke depan). Dia akan banyak menyandarkan aktivitasnya pada daya imaginasi sendiri, sehingga dia bisa kreatif.
7.      Di samping memiliki kekuasaan dan kewibawaan, pemimpin harus mampu membangungkan sikap kooperatif dan partisipatif pada setiap pengikutnya, agar mereka bersedia memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada organisasi. Dengan demikian sikap kooperatif para anggota itu merupakan faktor dependensi/ketergantungan pemimpin kepada anak buah atau pengikut-pangikutnya sekaligus juga menjadi tekanan psikologis bagi pemimpin.
Karena itu fungsi pemimpin adalah unik, yaitu terayun-ayun antara dilemma “kebebasan-kekuatan-kekuasaan” dan “kelemahan-ketergantungannya” kepada para pengikutnya. Maka seni memimpin mencakup kesanggupan: mampu mencari keseimbangan di antara dua dimensi yang polair/berlawanan itu.
8.      Oleh kekuasaan dan kewibawaanya, pemimpin juga berfungsi sebagai juri (wasit) dan hakim bagi segala konvensi dan “permainan” organisasi. Karena itu dia memiliki tanggung jawab moril/etis yang lebih besar daripada anggotan biasa, agar dia mampu menjamin proses humanisasi dan keadilan dalam organisasi.
9.      Seni kepemimpinan juga mencakup keseimbangan antara pelaksanaan tugas-tugas rutin (kontinuitas dari sistem kerja yang konvensional) dengan kegiatan-kegiatan inovatif dan kreatif dalam wujud penerapan sistem kerja baru, perbaikan, dan revisi.
10.  Tugas pemimpin yang paling sulit ialah pengambilan keputusan (decision making), yang memungkinkan berlangsungnya semua kerangka kerja secara efektif dan efisien. Sekaligus juga menyambungkan empat fungsi manajerialnya, yaitu merencanakan, mengorganisir, menuntun (memimpin, leading), dan menilai atau memberikan evaluasi.
Dalam kemahiran pengambilan keputusan tercakup keterampilan mengadakan seleksi, dan mengambil keputusan yang tepat dari sekian banyak alternatif.
11.  Tugas kepemimpinan merupakan tugas yang berat, karena dibebani tanggung jawab etis/moril untuk memutuskan satu seleksi dan keputusan di tengah-tengah macam-macam peristiwa yang tidak pasti, belum dikenal, dan muncul secara mendadak atau secara tidak terduga-duga.
12.  Sehubungan dengan semua itu, unsur pertentangan dan oposisi menjadi condito sine-qua non ( persyaratan yang tidak dapat ditiadakan) dalam masyarakat modern, melalui konflik-konflik interorganisasi dan antaorganisasi yang harus dapat diselesaikan lewat manajemen konflik oleh pemimpin.
          Selanjutnya, konsepsi mengenai kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari kemampuan, kewibawaan, dan kekuasaan.
          Kemampuan ialah segenap daya, kesanggupan, kekayaan, kecakapan dan kekuatan yang terdapat pada individu untuk bertingkah laku, khususnya untuk bertingkah laku sebagai pemimpin.
          Kewibawaan berasal dari kata-kata “kawi” dan “bhawa”. “Kawi’ berarti kuasa, kekuasaan yang lebih baik, kelebihan. Dan “bhawa” ialah kekuasaan, kekuatan suprahuman, keutamaan, kelebihan, keunggulan.Jadi kewibawaan (dalam bahasa jawanya “prabawa”, berarti kelebihan, keunggulan keutamaan, dengan mana seseorang mampu “hambawani” atau mengatur, membawa, memimpin, dan memerintah orang lain.
          Dalam hal ini, pemimpin yang memiliki kewibawaan itu mempunyai beberapa kelebihan, sehingga dia kuasa membawa orang lain untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Atau dia mampu memberikan pengaruh-pengaruh kepemimpinannya kepada bawaha/pengikutnya. Karena itu kawibawaan merupakan kebutuhan/keperluan teknis, karena kewibawaan menimbulkan kepatuhan normatif pada para pengikut.
          Kekuasaan ialah: kekuatan, otoritas, pengaruh untuk mengatur dan mengarahkan pegikutnya.
          Seorang pemimpin, karena status dan tugas-tugasnya mengepalai satu unit (instansi, kelompok, orgnisasi, dan lain-lain), pasti mempunyai kekuasaan. Kekuasaan seorang pemimpin ini sumbernya bisa datang dari:
1)  Kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang lain;
2)  Sifat dan sikapnya yang “unggul”, sehingga mempunyai kewibawaan terhadap penganut-penganutnya;
3)  Memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman luas yang lebih banyak kaya-kaya;
4)  Pandai bergaul dan berkomunikasi, memiliki kemahiran human relation yang baik.

          Jelaslah kini bahwa seorang pemimpin dengan kepemimpinannya itu mampu mempengaruhi, mengubah dan mengarahkan tingkah laku bawahan atau orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Maka untuk menentukan pesyaratan-persyaratan seseorang menjadi pemimpin, William G. Scoutt mengemukakan beberapa pendekatan, yaitu:
a)  The “Great Man” approach (pendekatan “Orang Besar”)
b)  The trait approach (pendekatan cirri atau sifat).
c)  The modified trait approach (pendekatan ciri yang sudah diubah)
d) The situasional approach (pendekatan situasional)
Scott menyatakan, bahwa semua kelompok, baik yang formal maupun yang informal selalu membutuhkan pelaksanaan fungsi-fungsi kepemimpinan karena semuanya akan menentukan siapakah pemimpinnya, dan siapa pula yang akan dipimpin dalam satu gerakan/kegiatan organisasi.
            Pendekatan “orang besar” menyatakan adanya kemampuan yang luar biasa dari seorang pemimpin, sehingga dengan segenap kualitas unggulnya dia dapat membawa para pengikut kepada sasaran yang ingin dicapai. Sifat-sifat utamanya antara lain adalah inteligensi tinggi, kemampuan berkomunikasi, dan kepekaan terhadap iklim psikis kelompoknya.
            Pendekatan trait atau sifat-sifat, menyatakan sederetan sifat-sifat unggul, sehingga pemimpin mampu mempengaruhi para pengikutnya melakukan tugas-tugas tertentu, sesuai dengan prinsip pembagian tugas (prinsip diferensiasi). Demikian pula pendekatan “modified trait approach” menyatakan, bahwa sifat-sifat unggul itu dapat diubah, diganti secara luwes, atau dibatasi, sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.
            Selanjutnya, pendekatan situasional menyatakan, bahwa sifat-sifat pribadi pemimpin itu bukan satu-satunya hal yang paling menentukan derajat dan kualitas pemimpin, melainkan situasi dan lingkunganlah merupakan faktor penentunya. Maka, mungkin terjadi, bahwa seorang pemimpin yang efisien pada saat sekarang ini, belum tentu mampu menjabat tugas kepemimpinan pada saat lain dengan kondisi-kondisi yang berbeda.
            Contohnya, seorang kapten pilot pesawat terbang yang mengalami pendaratan darurat di daerah rawa-rawa atau daerah hutan belukar, belum tentu mampu menjadi pemimpin dan petunjuk jalan/pemandu di daerah hutan dan rawa tersebut. Dia akan rela menyerahkan kepemimpinan “ke luar dari daerah  paya dan hutan” kepada seorang yang terbiasa hidup di daerah sedemikian itu.
            Jadi, sifat-sifat fungsional kepemimpinan itu erat berkaitan dengan situasinya. Keadaan darurat dan kondisi lingkungan dapat mendorong seseorang-siapapun juga- untuk menjadi pemimpin, karena dia mampu melakukan tindakan-tindakan yang tepat dalam menanggapi tantangan situasinya. Apabila organisasi ada dalam keadaan kritis menghadapi ancaman bahaya, maka biasanya secara spontan akan muncul seorang pemimpin yang mampu mengatasi kemelut, yang sehari-harinya justru berfungsi sebagai anggota biasa. Dalam hal ini ada kepercayaan yang datang dari luar/lingkungan untuk mengangkat pribadi yang bersangkutan sebagai pemimpin.
            Tampaknya memang ada pendapat-pendapat yang bertentangan antara para situasionis (penganut faktor situasi yang dominan) dan para penganut traitist (yang dominan adalah sifat-sifat dari pemimpin), kerena masing-masing akan menekankan variabel yang diminatinya. Memang sulit untuk memutuskan variabel yang mana yang lebih dominan, yaitu apakah sifat-sifat dan kemampuan seseorang pemimpin, ataukah situasi dan keinginan kelompok itulah yang “mencetak” seorang pemimpin. Keduanya bisa dituntut secara bergantian atau bersamaan.
            Jika penekanan tidak berlangsung pada sifat-sifat seorang pemimpin, dan juga tidak terdapat penonjolan dan keinginan kelompok, namun ada penekanan pada relasi akrab antara kemauan kelompok dengan sifat-sifat pribadu pemimpin pada saat (situasi-kondisi) terntentu, maka pendekatan semacam ini disebut sebagai pendekatan interaksionis. Sebagai contoh dari peristiwa sedemikian ini di tanah air ialah peristiwa pada setiap departemen terdapat Inspektorat Jenderal yang bertugas melaksanakan control intern. Di samping itu, pemerintah punya aparat khusus untuk mengawasi pelaksanaan anggaran, yaitu Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara, untuk mengawas semua departemen. Juga ada Badan Pemeriksa Keuangan.
            Namun, oleh banyaknya ketidakberesan administrasi keuangan dan kurang efektifnya pengawasan, maka perlu dibentuk tim khusus “Operasi Tertib” (OPSTIB), yaitu dengan diterimanya seorang tokoh pemimpin Laksamana Sudomo, yang didukung oleh situasi dan semua lapisan masyarakat serta aparat pemerintahan. Dengan harapan agar administrasi Negara bisa lebih tertib, dan korupsi secara drastic bisa dikurangi.

            Dalam situasi tersebut, terdapat hubungan antara situasi, yaitu semrawutnya administrasi aparatur pemerintah di wilayah tanah air yang begitu luas, dengan harapan pemimpin pemerintahan dan harapan segenap lapisan rakyat, yang menghendaki tindakan-tindakan tegas dan konkret. Dalam situasi dan kondisi sosial sedemikian, seorang tokoh pemimpin dengan kemampuan dan kekuasaan khusus diharapkan dapat mengatasi situasi yang cukup gawat dan ruwet itu.
SHARE BERBAGI MANFAAT SILAKAN

0 komentar:

Post a Comment